Jumat, 11 September 2009

Sejarah Kota Banyuwangi

Latar belakang terbentuknya kota Banyuwangi

Untuk mengetahui kapan persisnya terbentuknya kota Banyuwangi.Kita dapat melihat Hari Jadi Banyuwangi (HARJABA),yang menjadi persoalan masih ada perdebatan tentang hari jada Banyuwangi ini.Pada masa Orde Baru masalah ini atau hari jadi Banyuwangi sudah ditetapkan sebagai hari jadi yaitu tanggal 18 Desember 1771.Yang jadi persoalan adalah pada tanggal 18 Desember 1771 masa kemenangan pasukan Bayu terhadap bangsa kolonial Belanda,sehingga pemimpin Belanda waktu itu yaitu Van Schaar meninggal.Yang lebih sadis lagi mayat Van Schaar dimasak dan dimakan oleh pasukan bayu.Sehingga kurang tepat di jadikan hari jadi Banyuwangi,karena dinodai kanibalisme.

Perang Bayu

Perang Bayu,tanggal 18 Desember 1771 memiki risestensi yang cukup besar sekali, sebab momen Perang “Puputan” Bayu terlampau ter-dramatisasi.Sedangkan istilah “ Puputan” yaitu berarti habis-habisan,sdangkan bahasa daerah Banyuwangi istilah puputan berarti:selesai,berakhir,binasa,penghabisan,tamat.Kata ini sangat rancu unntuk sebuah kalimat (wawancara dengan bapak armaya yang merupakan budayawan Banyuwangi).

Tanggal 18 Desember 1771 ini masih banyak pertanyaan,soal konsepsuasasi nama nama,letak geografis dari perang tersebut, yang sebenarnya tidak di Bayu melainkan di Songgon yang waktu itu menerima serangan mendadak dari ki Rempeg (jaga pati). Apakah benar ini merupakan perang yang mempertahankan ideologi, apakah ini perang yang mengusir kaum penjajah atau kolonial, ataukah perang saudara dan ataukah pemberontakan dan huru-hara? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menyisakan banyak polemik akan hari jadi Banyuwangi.

Memang, hari jadi Banyuwangi oleh pihak-pihak tertentu yang bersikukuh dengan keyakinannya berpendapat bahwa sepatutnya diangkat dari peristiwa monumental perang bayu. C. Lekkerkerker dalam bukunya yang berjudul Balambangan yang memberikan masukan atau sumber yang ada. Ia menjelaskan sebagai berikut pada tanggal 18 Desember 1771 terjadi penyerangan membabibuta dari orang-orang bayu; Van Schaar diserang dengan tiba-tiba dan gugur, begitu juga kornet tinne. Dari orangt-orang Belanda hanya yang sedikit yang selamat. Pada umunya orang-orang Madura bertahan dengan gagah berani dan mereka berhasil menghalau kembali penyerangannya. Sisa-sisa dari pasukan kompeni kembali ke kota Lateng dibawah pimpinan seorang kapten madura yang bernama alap-alap. Menurut pengakuan Van Wikerman menjelaskan bahwa jenazah Van Schaar dimasak oleh oarng-orang bayu dan bahkan mereka memakannya, sedangkan kepalanya diarak berkeliling sebagai tanda kemenangan. Kematian Van Schaar ini dijadikan patokan sebagai hari jadi Banyuwangi.

Tanggal 24 Oktober 1774 sebagai alternatif baru HARJABA

Permulaan pemerintahan Mas Alit terjadi tahun 1774, tepatnya sejak tanggal 5 Februari 1774 karena pada waktu itulah baru diangkat denagn akte pengangkatan. Memang benar bahwa Mas Alit direncanakan diangkat sebagai Bupati sejak lama yaitu sejak tahun 1772. Oleh karena Mas Alit sukit ditemukan terutama pada waktu perang berkecamuk di Blambangan (ternyata kemudian ditemukan di Madura) maka pengangkatannya baru bisa dilakukan pada awal tahun 1774. Pada waktu diangkat, Mas Alitt berkedudukan di Ulupampang (Cluring) dan kemudian dengan ide Mas Alit ibu kota berpidah ke Banyuwangi.

Perpindahan ibu kota yang sering terjadi itu, ada hubungannya dengan sistem kepercayaan yang berlaku umum. Ibu kota dan sering juga diartikan kerajaan sebagai keseluruhan, dianggap suci dan keramat. Malapetaka perang yang mengakibatkan pertumpahan darah serta wabah penyakit adalah aib besar yang dianggap menodai kesucian istana dan ibu kota. Ini dianggap akan menimbulkan malapetaka berantai secara sirklus oleh karena itu ibu kota dipindahkan ke Banyuwangi. Rupanya ada pula tuntutan situasi politik yang sedang berkembang, yang mengharuskan Mas Alit memindahkan ibu kota ke Banyuwangi (majalah budaya:jejak 2004. hal 46-51).

Pada hari selasa tanggal 8 Januari 1774 yaitu setelah para pembesar menghadap Mas Alit minta izin kepada raja Madura agar bisa pulang ke Blambangan. Untuk bisa memenuhi pembesar Blambangan dan permintaan VOC. Tanggal 31 Januari Mas Alit beserta rombongannya tiba di Ulumpampang tempat kediaman residen barulah pada hari sabtu tanggal 5 Februari 1774 diangkat sebagai residen atau bupat. Sejak saat itu Mas Alit secara formal dan sah menjadi bupati Blambangan. Pembangunan istana Banyuwangi, baru dianggap selesai pada tanggal 14 Oktober 1774. Ini pun sementara waktu sebab dalam rencana, istana akan diteruskan pembangunannya setelah lima tahun kemudian. Istana Mas Alit di Banyuwangi terletak di depan benteng VOC. Barulah pada tanggal 24 Oktober 1774, Mas Alit menunggalkan Ulumpampang dan berangkat ke Banyuwangi serta langsung menuju istana. Pada waktu itu juga, Banyuwangi berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan pusat kegiatan ekonomi. Jadi tanggal 24 Oktober 1774 merupakan perpindahan ibu kota dari Ulumpampang ke Banyuwangi. Ini yang dijadikan sebagai alternatif baru sebagai hari jadi Banyuwangi.

Mas Alit

Sebuah realitas jaman, bahwa 24 Oktober, ketika Mas Alit sang bupati Banyuwangi pertama secara resmi melakuakn perpindahan ibu kota dengan ditandai keberangkatannya dari Ulupampang menuju istana Banyuwangi. Kondisi ini telah membawa perubahan yang sangat besar. Kebijakan Mas Alit telah melahirkan paradikma baru pembangunan di Banyuwangi.

Banyuwangi, akhirnya berkembang menjadi pusat kegiatan ekonomi, politik, dam budaya. Terbukti, Banyuwangi eksis sampai hari ini dan terus tumbuh berkembang sebagai pusat pemerintahan yang dinamis. Mas Alit sang pembawa pencerahan melalui kebijakan-kebijakan yang cerdas, teliti, bertanggungjawab dan selalu berpihak pada rakyat. Terbukti, usulan tentang penyerahan wajib kepada VOC yang berupa pajak inatura, akhirnya dihapus, terkait dengan krisis ekonomi akibat konflik berkepanjangan (pusat studi budaya Banyuwangi.2005)

Kebijakan-kebijakan lain, sebelum Mas Alit berkuasa, ada kerja rodi dan tindakan-tindakan kejam di Ulumpampang, ketika pembangunan kota, awalnya dengan upah yang rendah dan kekurangan sumber-sumber tenaga. Kemudian Mas Alit kepada pihak Belanda agar upahnya ditinggikan, hingga banyak pencari kerja dan sukarelawan untuk mempercepat pembangunan kota.

Jika Mas Alit sebagai antek orang kolonial, itu anggapan yang tidak benar. Sebab secara politis, Mas Alit, meskipun seorang penguasa, ia benar-benar memihak pada rakyat. Menganggap Mas Alit yang merupakan simbol Blambangan atau trah Blambangan, sebagai antek kolonial ialah pelecehan. Sebab sangat jelas bahwa Mas Alit memihak rakyat dengan semua kebijakan-kebijakan politiknya. Hal ini karena darah pejuang benar-benar berada pada diri Mas Alit. Terbukti pula dengan kematiannya yang dibunuh di tengah jalan, di Sedayu-Gresik. Mas Alit adalah muslim yang taat, dibuktikan dengan penataan arsitetur kota Banyuwangi yang sarat akan filosofi islamnya, ada masjid agung baiturahman, pendopo Sabha Swagatha blambangan, penjara / kapolres Banyuwangi, dan dari sini sirkulasi perekonomian berjalan lancar(Radar
Banyuwangi:Jawa Pos.2005)

Priya Purnama
jika diwebsite ini anda menemukan artikel dengan informasi dan konten yang salah, tidak akurat, bersifat menyesatkan, bersifat memfitnah, bersifat asusila, mengandung pornografi, bersifat diskriminasi atau rasis mohon untuk berkenan menghubungi kami di sini agar segera kami hapus.
◄ Newer Post Older Post ►
 

© Gudang Ilmu Powered by Blogger